Begitu Lynx melihat tiga binatang iblis melompat ke arah anak kecil yang tubuhnya berlumuran darah dan lumpur, tanpa ragu ia mengeluarkan sinar laser tak kasat mata dari kedua matanya yang langsung dalam sekejap membelah tubuh-tubuh binatang iblis hingga ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara pekikan.

Dibagian tubuh yang terbelah terlihat potongan yang rapi dengan bekas hangus seperti terbakar telah memotong tubuh mereka menjadi dua bagian. Lynx lalu menatap tenang ke arah anak yang kini berdiri membeku, matanya terlihat terbuka lebar menatap Lynx.

Anak itu terkejut bukan hanya karena diselamatkan, tapi lebih karena melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

Lynx melangkah pelan mendekatinya, menatap anak itu dari ujung kepala hingga kaki. Matanya lembut, penuh kehangatan. Ia berjongkok sedikit agar sejajar dengan mata si anak, lalu bertanya pelan agar tidak menakutinya.

"Kamu sudah aman sekarang. Tapi kenapa anak seusiamu bisa sampai di tempat seperti ini sendirian? Di mana orang tuamu?"

Tapi belum sempat Lynx berkata lebih jauh, anak itu tiba-tiba berlari ke arahnya, melemparkan tubuh kecilnya dan memeluknya erat-erat sambil menangis histeris. Tangisnya pecah, seolah beban yang ia tahan selama sekian lama akhirnya menemukan jalan keluar.

Lynx mematung. Ia tidak mendorong anak itu, hanya membiarkannya menangis sepuasnya. Wajahnya datar tapi dalam hatinya ia merasa sesak. Ia bisa merasakan ketakutan dan penderitaan yang tertinggal dalam pelukan kecil itu.

"Mungkin dia baru saja kehilangan keluarganya. Atau mengalami sesuatu yang sangat buruk. Biarlah... biarlah dia melepas semuanya dulu."

Namun tiba-tiba Lynx membeku seperti tersambar petir begitu mendengar suara anak itu di sela tangisnya.

"Kak Lynx... kemana saja kamu, Kak... Kanha sangat takut... Kanha kira... Kanha kira akan mati tanpa sempat bertemu kak Lynx lagi..."

Lynx perlahan memegang bahu anak itu dan mendorongnya sedikit menjauh, agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya membelalak, bibirnya bergerak perlahan seakan tidak percaya.

"Kanha...? Ini kamu...? Benarkah ini kamu?"

Anak itu mengangguk cepat, air matanya masih mengalir. "Benar, Kak. Aku Kanha. Cepat, tolong suku Surya. Para penyihir... mereka menangkap semua orang. Para pemuda... mereka berada di bawah pengaruh sihir jahat. Aku satu-satunya yang berhasil lolos..."

Mata Lynx memancarkan keterkejutan dan kegembiraan yang bertabrakan. Jantungnya berdebar kencang. Ia akhirnya mendapatkan petunjuk nyata tentang keberadaan suku Surya, suku yang telah lama ia cari.

Dia juga bersyukur, seandainya dia tidak menemukan energi aneh dan mengejarnya, dia bisa kehilangan Kanha karena serangan binatang iblis.

Namun sebelum bertindak lebih jauh, Lynx memutuskan untuk memastikan keadaan Kanha. Ia berdiri, lalu mengangkat satu tangan ke udara. Unsur air di sekitarnya mulai bergerak mengikuti perintahnya, membentuk aliran lembut yang melayang dan membasuh tubuh Kanha.

Lumpur dan darah perlahan menghilang, dan wajah bocah yang begitu ia rindukan kini terlihat dengan jelas. Wajah itu sama seperti yang ia ingat, hanya sedikit lebih kurus dan penuh luka kecil.

Lynx mengeluarkan sebuah pil kecil dari cincin penyimpanan, lalu menyerahkannya kepada Kanha dan memberinya kantung air minum.

"Minumlah ini. Tubuhmu akan tetap hangat walau bajumu basah. Pil ini akan memulihkan tenagamu sementara."

Kanha meminum pil itu tanpa ragu. Tak lama, rona wajahnya mulai sedikit membaik. Ia berhenti menangis, meski matanya masih merah dan suaranya masih berat.

Melihat itu, Lynx mengangguk pelan. Wajahnya kini tegas, tak ada lagi keraguan. Matanya memancarkan keseriusan penuh.

"Baiklah, Kanha. Sekarang tunjukkan di mana arahnya."

Kanha menunjuk ke arah utara, matanya berbinar penuh semangat. "Arah sana, Kak! Aku masih mengingat jelas arahnya, jalannya melewati pepohonan itu. Ikuti aku."

Lynx mengangguk dan langsung menggendong Kanha agar lebih cepat. Meski tubuh bocah itu ringan, jalur yang mereka lalui bukanlah jalur biasa. Kanha beberapa kali memberi isyarat agar berbelok tajam, menunduk melewati pohon berlubang, atau menyusuri sisi tebing curam yang hampir tak terlihat jika bukan karena mata terlatih Kanha.

Meski hatinya tak sabar ingin segera tiba dan menyelamatkan suku Surya, Lynx tahu tidak bisa sembarangan menggunakan kecepatannya. Jejak yang Kanha ikuti terlalu rumit dan hanya anak yang lahir dan besar di hutan seperti dia yang bisa membacanya.

"Aku tidak akan bisa menemukan jalan ini tanpa Kanha..." pikir Lynx dalam hati, kagum.

Setelah sekitar dua jam menembus hutan yang nyaris tak tersentuh manusia, Kanha menunjuk ke arah celah bebatuan yang tertutup semak belukar. Di baliknya tampak samar seperti ada lekukan gelap menyerupai pintu masuk gua.

"Kak Lynx, itu tempatnya. Ada gua tersembunyi di balik batu itu. Kalau kita masuk ke dalamnya dan berjalan beberapa langkah, ada cahaya seperti sinar biru... kalau masuk ke dalamnya, kita akan sampai di tempat para tahanan dikurung."

"Sinar biru? Apa maksudnya?" batin Lynx.

Lynx menajamkan mata dan mengamati sekeliling. Sesuatu membuatnya terdiam sejenak. Dengan kekuatan spiritualnya, ia merasakan beberapa sosok berpakaian hitam keluar dari celah gua. Gerakan mereka kaku, wajah mereka tanpa ekspresi.

Mata Lynx langsung menyipit. Ia bersiap meluncur, hendak menembus dan menghancurkan mereka sebelum sempat menyadari kehadirannya. Tapi Kanha memegangi bajunya erat-erat dan berseru lirih.

"Kak, itu mereka... Mereka anggota suku Surya. Mereka kena sihir. Kita harus menyelamatkan mereka juga..."

Lynx langsung menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang dan mengubah pendekatannya.

Dengan kecepatan tinggi ia bergerak mendekati mereka. Satu per satu, ia mendekat dan mengetuk titik tertentu di leher atau punggung mereka, membuat tubuh-tubuh itu roboh tanpa suara. Dalam waktu singkat, enam orang itu sudah tak sadarkan diri.

Lynx lalu mencari tempat aman dan membuat formasi sebelum membuka portal menuju dunia kecil dan membawa semua penjaga yang tidak sadarkan diri masuk kedalam. Agar tidak membuat masalah saat terbangun, Lynx segera membuat formasi isolasi berbentuk segel enam penjuru. Energi spiritualnya menjalar membentuk simbol-simbol di tanah. Lingkaran itu akan mengurung mereka untuk sementara waktu.

"Kak Lynx, ini dimana? kekuatan Kak Lynx sangat hebat sekarang." puji Kanha. Namun Lynx terdiam berusaha memikirkan cara memulihkan kondisi mereka.

"Sihir? Bagaimana cara aku menghadapinya? Siapa sebenarnya penyihir yang mereka maksudkan." Lynx berpikir keras cara untuk menghadapi para penjaga lainnya yang ternyata penduduk Surya sedang dalam terpengaruh sihir.

Leena yang sedang mengobrol dengan Lala mengenai pengalaman mereka selama berpisah, tiba-tiba terdiam. Dia memiliki kepekaan lebih tinggi sebagai Immortal sehingga menyadari keberadaan Lynx serta orang lain di tempat tersebut.

"Leena, ada apa?" tanya Lala dengan cemas saat melihat ekpresi Leena berubah.

"Lynx datang bersama banyak orang. Aku kesana duluan." Kata Leena sebelum dengan cepat dia menuju ke arah Lynx. Setelah tiba, tatapannya tertuju kepada orang-orang yang di kurung oleh Lynx.

"Lynx, siapa mereka?" Tanya Leena dengan penasaran. Dia belum menyadari sosok anak kecil yang sedang bersama Lynx.

"Kak Leena, aku merindukanmu." Kanha memeluk Leena dengan rasa rindu.

Leena merasa kaget melihat anak kecil memeluknya dan lebih kaget lagi setelah mengetahui siapa anak kecil tersebut."Kanha... ini kamu Kanha?"

Leena segera berjongkok dan memeluknya."Kemana saja kamu selama ini?"

"Kanha? Astaga ini benar kamu Kanha." Lala yang baru tiba langsung ikut memeluk Kanha. Dia merasa gembira karena menemukan Kanha.

"Kalian, berhentilah. Sekarang belum waktunya untuk melepas rindu. Kita harus menyelamatkan suku Surya." Kata Lynx segera mengingatkan.

"Suku Surya?" Leena menatap Lynx dengan nada kaget.

"Lala, kamu jagalah Kanha dan cari tahu bagaimana cara menyadarkan mereka dari pengaruh sihir. Aku dan Leena akan menyelamatkan suku Surya." kata Lynx memberi perintah.

Tanpa menunggu jawaban Lala, Lynx segera memegang tangan Leena dan keluar dari dunia kecil. Dia tidak bisa lama-lama membuka portal atau seseorang akan menemukannya.

"Huh, asal saja menyuruh orang. Bagaimana cara aku menyadarkan mereka kalau mereka berada didalam formasi." Lala menggerutu dengan kesal. Karena buru-buru, Lynx lupa membuka formasi yang mengurung penduduk Surya yang sedang tidak sadarkan diri.

